Banner

ngiklan

Minggu, 07 Agustus 2011

          Open mula mula jadi guru sekolah rakyat, sudah itu jadi muslim, lantas jadi pengarang, kemudian jadi tukang jahit.
          Tentang perawakannya tak banyak yang dapat diceritakan. Ia punya dua kaki, dua telinga, dua mata dan satu hidung. Bahwa lobang hidungnya ada dua, itu sudah sewajarnya. Open seperti manusia lain, lain tidak.
          Tapi namanya memang mempunyai riwayat. Itu tidak dapat disangkal. Beribu ribu nama lain ada, Abdullah, Efendi, Al`aut, dan Buniwak -- enak kedengaran dan sedap dilihat jika ditulis. Dan orang orang yang kritis sudah pasti tidak akan merasa puas, jika tidak diterangkan mengapa Open bernama Open.
         Open sendiri sudah barang tentu tak ada baginya dalam memberi nama itu. Waktu itu ia masih merah: sebentar sebentar ia berteriak dan buru buru datang ibunya berbuka dada dan disodorkannya ke mulut bayi itu sesuatu yang menjulur dari dada terbuka itu. Open menghirup dengan senangnya, berhenti berteriak dan setelah selesai, tidur dengan nyenyaknya.
        Pekerjaan ayah dan ibunya memberikan nama itu dan orang yang pernah mengalami ini, pasti akan mengakui bahwa pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Mula mula ayah dan ibu ini mau menanyakan kepada dukun, apa nama yang terbaik bagi anaknya. Tapi ini segera dibuangnya jauh jauh. Mereka merasa hina berhubungan dengan dukun, karena di sekolah HIS dulu mereka belajar, bahwa dukun pembohong, tidak pintar dan harus dijauhi, jika hendak selamat. Sudan itu mereka hendak memberi nama "Ali" saja kepada anaknya, tapi tetangganya bernama juga bernama Ali dan ia ini adalah buaya besar, penjudi, pengadu ayam. Dan mereka tak mau anaknya menjadi buaya dan pengadu ayam pula kelak.
      Pada suatu hari ayahnya itu bermimpi. Mimpi tentang kota New York dan gedung gedungnnya yang menjangkau awan, tapi entah karena apa, selalu saja mendengking di telinganya satu perkataan Belanda: Openhartig. Waktu ia mandi pagi-pagi keesokan harinya masih kedengaran olehnya: openhartiig--openhartig--openhartig. Ya, waktu di kamar kecil pun, tentang mana orang tak pernah openhartig, di sini pun membisik di telinganya: openhartig-- openhartig--openhartig.
      Dan waktu hal ini diceritakan ayah ini kepada istrinya, istri itu meloncat setinggi langit dan gembira ia berkata, "Ini bisikan Tuhan, tolol. Anak kita harus jadi orang yang berterus terang, openhartig. Mari kita namakan saja -- Open."
      Ayah itu membelalakkan mata dan katanya, "Apa kau bilang? Anak kita diberi nama Open? Engkau gila!"
      Tapi seperti biasanya dalam hal ini, istri mesti dan selalu menang dan begitu Open bernama Open. Apakah ia besarnya betul betul jadi orang berterus terang, openhartig, tentu orang lain yang menentukan, bukan Open. Tapi waktu ia dengar dari ibunya tentang riwayat nama ini, sejak dari itu, Open sungguh sungguh berniat dalam hatinya, akan mengabulkan cita cita ibunya itu, artinya ia akan berusaha sedapat mungkin dalam hidupnya akan berterus terang dalam segala hal.
     Waktu ia jadi guru sekolah rakyat, saban ia hendak masuk kelas untuk memberi pelajaran, ia selalu ingat kepada cita cita ibunya ini, dan sebab itu ia selalu memulai pelajarannya dengan, "selamat pagi, anak anak. Kemarin aku telah kawin dengan seorang gadis di kota ini. Aku sengaja tidak mengundang kamu sekalian, karena aku pikir, kamu tak akan dapat memberi apa-apa. Apa pula yang dapat diharapkan dari anak anak, bukan?... Eh, Amat! berapa 41x41 !?"
    Atau spada lain kali ia menceritakan panjang lebar tentang perselisihannya dengan istrinya itu. Waktu itu ia pakai celana pendek saja dan istrinya pegang golok. Kata bersahut dengan kata dan tiba tiba istrinya mengejar dia dengan golok itu dan dia berlari pontang panting. Dan bagaimana ia berlari, dicobakannya pula di muka kelas. Anak anak pada tertawa, seorang berkata, "Ah pak guru takut sama istri." Yang lain berkata: kasihan Pak guru, dirongrong terus-terusan oleh istrinya."
    Anak anak yang berpihak pada pendapat pertama lebih banyak dan itu sebabnyak sejak dari itu Open bernama: guru golok, dan karena perkataan golok sangat baik bersajak dengan goblok, Open akhirnya bernama: guru goblok Setiap ia masuk kelas, ada saja anak anak nakal yang berteriak keras keras: selamat pagi, guru goblok.... blook.. blookkk... bloook. Atau jika ia pagi pagi masuk dengan sepeda antiknya ke dalampekarangan sekolah, berteriak dari segala penjuru, gobloooook... blook.. bloook.. goblook!"
     Orang yang sesabar sabarnya akhirnya marah juga. Dan Open adalam orang yang selalu menurutkan perkataan hatinya. Jika hati  ini berkata: pegang seorang anak dan pukul dia, ia memegang seorang anak yang terdekat darinya, lalu dipukulnya. Rasanya oleh Open, ia memukul hanya pelan, tapi dari telinga anak itu keluar darah.
     Dan inilaih sebabnya datangnya orang tua murid yang kena pukul itu ke sekolah, guru kepala memaki maki Open dan akhir cerita: Open diberhentikan.

bersambung. . . .

Sabtu, 23 April 2011

Bercak Merah Kelabu

Hey Dad look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according
To plan?
Do you think I’m wasting
My time doing things I
Wanna do?
But it hurts when you
Disapprove all along
Sempat terfikir olehku tentang masa masa sulit di sini, tentang apa yang kucapai di sini, tentang niat semula untuk membawa “dia” pulang kembali ke rumah. Sekarang sudah berakhir. Dengan senyum mengembang, dan tumpahan air mata yang entah kusebut sebagai air mata penyesalan atau air mata bangga, aku merasa seperti benar benar sebagai seorang pecundang sejati.
Sekarang Nia sudah bersama orang lain. Dan sialnya, orang lain itu adalah orang yang selama ini menjadi sahabat dekatku. Aku kalah. Pun seandainya dia bersama orang lain, dan orang itu tak kukenal, mungkin ceritanya jadi lain, mungkin perasaanku tak segalau ini, dan mungkin aku tak sesakit hati seperti ini.
Ayah, apakah aku  telah gagal menjadi seorang anak? Apakah jika nanti aku pulang dan tak membawa Nia, kau akan marah padaku, semarah dirimu pada Mas Hadi? Aku takut. Aku tak bisa membahagiakanmu. Aku tak bisa membahagiakan Ibu. Sudah sampai di sini saja perjuanganku. Tak ingin berharap lebih jauh lagi. Tak ingin…
Ah, air mata ini meleleh lagi. Tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikannya. Dan rasa sakit ini, rasa sakit hati yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, semakin sakit menjadi jadi. Aku harus segera menemukan obatnya, mungkin akan lama luka ini sembuhnya, mungkin meradang, dan membekas bertahun tahun. Ya Allah, sakit sekali.
Aku coba pejamkan mata. Tapi semakin nyata bayangan akan dia datang menghampiri. Dan tiba tiba terdengar suara langkah kaki semakin terdengar nyaring menuju kamar. “Bib! Masih belum tidur?” suara khas Jun Hiroshi menggema di sunyinya malam ini. Aku terhenyak.
“Belum, Jun. kamu belum tidur?”
“Belum. Bib, besok pagi ada acara?”
“. . . tidak ada, Jun? kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu,” mata sipitnya menatapku, terlihat sayu dan sleepy. “Bisa kan?” semakin aku menatapnya, hatiku semakin bergejolak aneh. Seakan aku tak pernah rela dengan sahabatku itu. Seakan aku ingin hilang ingatan, dan tak pernah kenal dengannya.
“Ke mana, Jun?” ucapku datar.
“Acara peragaan busana. Nana Yukito akan ikut jadi modelnya..”
            Jantungku seperti berhenti sejenak. dan pikiranku seperti berhamburan melayang di kamar tidurku. Aku menatap Jun dengan tatapan mata kosong, entah aku harus bicara apa. “. . . . .tapi Jun.”
            “Tak usah dipaksakan jika kamu ada acara, Bib,” senyumnya seperti biasa. “tapi aku sangat mengharapkan kedatanganmu. Karena ini acara spesial. Acara peragaan busana kimono dan Batik Indonesia, memperingati kerja sama antara Yogyakarta dan Kyoto. Nana mendapat undangan spesial menjadi pragawati dari kedutaan Indonesia.”
            Aku tak tahu harus bagaimana. Tawaran itu terasa berat. Jika aku mengikuti ajakannya, sama saja semakin membuat hatiku semakin sakit. Kembali aku menatapnya, kali ini matanya seakan memancar penuh harapan iba padaku.
“Baiklah Jun. Aku ikut.. . “ senyumku masam.
“Oke. Konbanwaa. . .” dia pun menutup pintu dengan perlahan.
Urat syarafku mengendur dengan cepat, nafasku lega seketika. Rasa tegang bertemu Jun perlahan pergi. Semoga besok berjalan baik baik saja. Amin.
***
Nishijin Textile Center yang biasa kulewati tiap berangkat kuliah pada sore ini terlihat ramai. Bangunan sakral museum kimono itu memang sengaja dijadikan tempat fashion show kimono-batik untuk memperingati 60 tahun jalinan persahabatan antara Kyoto dan Jogja, dua kota yang menurutku memiliki kesamaan dalam melestarikan budaya leluhur.
Senyumku tak pernah hilang berada di sana. Kulihat banyak pelajar dan orang Indonesia memakai batik. Sejenak seperti kurasakan, aku sedang berada di kampung halaman. Ingin rasanya kusapa beberapa orang di antara mereka dan kutanyakan dari mana mereka berasal. Aku jujur, hampir tak pernah kutemui gerombolan orang Indonesia di Kyoto sebanyak ini. Belum sempat kulangkahkan kaki pada gerombolan gerombolan itu, Jun menyeretku masuk ke dalam gedung.
 Gerombolan juru tulis dan juru poto langsung memadati ruangan peragaan busana. Jun masih menyeretku masuk ke urutan kursi vvip. Dia membantingku duduk di kursi paling depan. Sejenak kami saling menatap muka. Tak pernah kulihat wajahnya sesumringah ini. Di tangannya masih menggenggam bunya mawar yang lumayan mewah. Dan sesekali dia bertanya padaku, “bagaimana penampilanku?” Ya, aku merasakannya, dia nervous.
Tegang, karena dia akan memberi bunga istimewa itu pada wanita istimewa pada acara ini. Nana Yukito akan menjadi bintang model pada peragaan busana kali ini. Oleh karena itu dia berusaha dandan setampan mungkin, agar nantinya tak membuat malu.
“Kamu lebih rapih dari malam perpisahan kemarin, Jun. Sogoi!” pujiku.
“Aku tak sabar melihat pacarku malam ini. Dia seperti menjelma jadi ratu semalam, menurutku…”
Sejenak aku diam, “. . .ya, tentu saja. Dia cantik, Jun.”
Suaraku yang lirih itu langsung membuat Jun menatapku tajam, seperti seekor elang lang baru saja melihat mangsanya, dia menatapku tajam. Dan kami saling pandang dengan tatapan aneh. Aku merasa seperti bersalah telah memuji “pacarnya” itu, dan aku merasa Jun cemburu.
“Ternyata bukan cuma aku yang bilang dia cantik. Kau pun sependapat kan, Bib. Dia sempurna.” Dia tersenyum. Dan ketegangan di antara kami perlahan mencair.
Acara itu dimulai. Seorang MC laki laki dari Indonesia memakai batik, seorang MC lagi adalah perempuan Jepang yang memakai kimono. Dan ledakan tepuk tangan pun menggelegar mewah menyambut mereka yang berjalan pelan menaiki panggung catwalk.
Mataku masih tertuju pada panggung yang sudah dirias rapi, dengan ornamen bunga sakura dan anggrek bulan yang membuat suasana benar benar mewah. Karpet catwalk merah membentang panjang, dikelilingi para wartawan dan tamu undangan. Aku tak begitu antusias mengikuti jalannya acara, aku tak mendengar apa yang diucapkan MC, aku lebih terfokus pada si Nia. Aku membayangkan dia berjalan anggun seperti putri keraton, dielu elukan banyak orang, disanjung sanjung. Aku seperti tak sabar menunggu putri cantik itu keluar dari persembunyiannya.
Sambutan duta besar Indonesia dan walikota kyoto pun berakhir. Beberapa pragawan keluar dari tirai, berjalan gagah dengan batik mewah mengkilap. Tepuk tangan menggelegar di ruangan. Seperti gerbong kereta api, deretan pragawan dan pragawati masih berjalan mondar mandir memamerkan pakaian. Dan aku semakin tak sabar dengan si Nana Yukito itu.
“Kamu gugup, Jun?”
Dia berdeham sambil tetap tersenyum, “iya, aku tak sabar ingin memberi bunga ini untuknya.” Aku diam, tapi hatiku mengutuki, mencaci, menghina, dan cemburu. Aku tak bisa apa apa lagi ini. Nia bukan apa apaku.
“Tenang, dia pasti keluar.”
“Dia masih lama, Bib. Masih tigapuluh menit lagi Nana menuju catwalk.”
Aku terhenyak. Saking banyaknya gaun yang harus dipamerkan, waktu yang dibutuhkan lumayan lama. Dan aku merasa semakin bosan dengan acara yang mencemukan itu. “Jun, aku keluar sebentar.”
“Ke mana?”
“Smooking…” senyumku. 
***
Merokok bagiku adalah suatu yang lumrah semenjak Nia pergi meninggalkanku. Aku mencoba sembuhkan luka hatiku dengan rokok, bukan dengan minuman beralkohol. Maka sampai saat ini aku kencanduan dengan batang bernikotin itu. Suatu yang merugikan. Sampai sampai berulang kali Ayumi melarangku, sudah seperti Ibuku sendiri yang sangat care dengan kesehatanku.
Aku naik ke lantai tiga, di balkon. Ada ruang khusus untuk perokok. Masih kucoba nyalakan batang rokokku sambil berjalan santai. ketika aku masuk ke sana, seorang wanita dengan make up ala kadarnya dan wajah cemas, menatapku dengan tatapan aneh. Kami saling berpandangan lama, dengan perasaan yang saling disembunyikan. Hingga panas rokok yang terselip di jari tangan yang membuatku tersadar dari pandangan itu.
Dia Nia. aku tak salah terka. Dan aku tak pernah merasa senervous ini, lebih tegang dari saat saat aku harus mempresentasikan hasil penelitianku pada penguji pengujiku menjelang kelulusan kuliah. Mungkin dia juga bisa mendengar detak jantungku yang semakin lama semakin berdegup kencang ini. Nyawaku seperti hilang dari tubuh, aku diam mematung, lama.
“Kamu. . .” Nia menyapa, tapi dia membuang muka. Tangannya masih mencoba menyalakan korek api.
Aku duduk di pojokan, tak ingin kumendekatinya. “Kita bertemu lagi. . .”
“. . . hanya kebetulan saja,” ucapnya datar.
Perasaan aneh itu tiba tiba saja datang. Aku melihat istriku itu, tapi tak seperti empat tahun yang lalu, yang penuh cinta kasih dan rasa saling menyayangi. Kali ini ada perasaan menjaga jarak, dan seperti seolah olah aku harus mengenal Nia sebagai orang yang baru saja kukenal empat menit yang lalu.
“Ngapain ke sini?” dia menatapku. Tatapannya masih sama seperti Nia yang kukenal judes dan penuh rasa angkuh.
“. . .nemenin Jun. Kamu sendiri, ngapain ke sini?”
Dia selipkan rokoknya, dan menyalakannya,”bukan urusan kamu tuh. . .” jawabnya judes. Aku diam, dengan perasaan hati yang semakin tak enak.
“Oh, cukup taulah,” lirihku. Kusedot rokokku dalam dalam. Kuhempaskan penuh kekuatan, kukeluarkan beserta kedongkolanku padanya.
Sejenak dia menatapku aneh, aku mencoba melawan tatapan itu. “Sejak kapan kamu ngerokok?”
Aku tersenyum, “bukan urusan kamu tuh. . .” balasku.
Dia menggeleng tersenyum memaki. “Oke oke. Di antara kita sudah ngga ada hubungan apa apa kan ya?! jadi sori deh kalo aku nanya yang aneh aneh.”
“Okeh. Ngga apa apa kok. Tapi jujur aja, aku masih nganggep kamu kaya` Nia yang dulu, ngga kurang ngga lebih.”
“So?” dia kerlingkan alis sambil hembuskan asap rokoknya.
“. . . nothing. Tapi jika kamu pengennya kaya` gini, ya aku ikuti permainan kamu. Ampe kamu puas.”
“Hey! Aku ngga ngerasa kita sedang berada dalam suatu permainan, ya!” intonasinya terkesan lantang, tapi dengan ucapan yang lamban.
 “Okey. Tapi inget satu hal, Nia. aku masih tetep nganggep kamu Istri aku.”
“Kita udah cerai! Dan aku masih belum bisa maafin kamu.”
“Tapi…”
“Stop! Jangan ngomongin ini lagi. Ngga ada guna!” dia memotong pembicaraan kami.
Keadaan menjadi tegang. Asap rokok mengitari ruangan. Entah apa yang baru saja aku omongin, tiba tiba saja keadaan yang canggung itu berubah menjadi semakin penuh emosi.
“Maaf kalau aku yang mengacaukan segalanya, aku yang membuat hubungan kita menjadi kaya` gini. . .”
“Maaf ngga ada artinya buat aku,” dia kibaskan rambut basahnya dengan congkak.
Aku menatapnya dengan serius, dengan penuh rasa rendah diri, dan kuletakkan harga diriku sebagai lelaki, “apa kamu mau ngasih satu kesempatan lagi buat aku?”
“Buat apa?” ucapnya enteng.
“Please. Aku pengen bawa kamu pulang. Ayah sama Ibu di rumah pengen kita balik kaya` dulu lagi.”
Dia sejenak diam, “Ngga. Aku belum bisa maafin kamu.” sesekali hembuskan asap rokoknya dengan rasa cemas.  “Dan aku bukan tipe cewek yang mudah ngasih kesempatan sama cowok yang udah nyakitin aku.”
“Demi Tuhan, aku masih sayang kamu, Nia. Harus gimana lagi aku ngebuktiin biar kamu percaya lagi sama aku, balik lagi sama aku.” Nada bicaraku bergetar. Dan perlahan aku rasakan mataku basah. leherku seperti tercekik, susah bernafas.
Nia pejamkan mata, “ngga..” dia menggeleng, “.. engga, dan engga bisa. Maaf.” Dia berdiri melangkah keluar ruangan. Belum sampai dia menyentuh pintu, aku renggut tangannya.
“Kamu tahu, apa yang bisa bikin aku sampe bisa kuliah sampe sini?” kami saling menatap penuh arti. Nafasku tak beraturan kembang kempis. “. . .karena aku punya mimpi bisa ketemu kamu, dan bisa membawa pulang kamu. Aku ngebayangin kita punya keluarga kecil yang penuh cinta kasih, saling mengasihi. Aku masih sayang kamu. . .”
Aku melihat pancaran matanya tiba tiba meleleh. Dan terlihat embun tipis di pelupuk matanya, semakin tebal, dan meluncur deras bagai hujan membasahi kedua pipinya.
Dia terisak, “please, lupain aku. Aku udah ngga cinta lagi sama kamu. Aku udah kehilangan kepercayaan sama kamu,” nadanya terdengar sangat galau.
“Kalau aku bisa ngelupain kamu, sudah kulakuin dari dulu, Nia. Tapi nyatanya semua kenangan kita ngga bisa begitu aja pergi dari ingatanku.”
Nia menghapus air matanya, dia seperti kehilangan kata kata, “aku ngga mau tau. Entah gimana caranya, aku pengen kamu brenti nginget aku. Aku pengen kita udah ngga punya hubungan apa-apa lagi. Aku udah ngga inget apa apa lagi di antara kita.” Tatapan matanya tajam menohokku, benar benar menantang seperti singa betina yang siap membunuh mangsanya.
Perlahan kulemaskan cengkramanku. Kami masih saling pandang, dengan tatapan saling menohok di udara. Aku sudah seperti orang gila yang mau tak mau harus menerima kenyataan pahit. Aku telah kalah di pertempuran ini. Tak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku lelah.
Suara ringtone HP nyaring terdengar di saku celana jeans nya, berdering semakin kencang. Aku tak salah dengar. Irama yang sama, nada yang sama, dan lirik yang tak asing lagi, sheila on seven, penggalan lagu Hingga Ujung Waktu. “. . . akhirnya kumenemukanmu, saat ku bergelut dengan waktu. Beruntung aku menemukanmu, jangan pernah berhenti memilikiku. . .”
Kalutnya bukan main. Cepat cepat dia angkat Hpnya. “Moshi moshi..” jawabnya lembut seperti dibuat buat. “Hey! Di mana kamu?! Sebentar lagi kamu on the show!!” jerit suara wanita di corong HP.
Senyumku mengembang semakin lebar. Aku tak tahu harus bagaimana lagi selain menunjukkan acting grogi. Perasaanku membuncah, dan pikiranku berhamburan seperti kembali ke masa lalu bersama dia. Ringtone di HP nya sudah cukup membuktikan jika dia masih belum bisa  melupakan kenangan masa lalunya.
            “Permisi. . .” dia cepat cepat pergi dengan lagak yang aneh.
            “Kamu masih belum bisa melupakan kenangan kita, Nia.”
            “Terseraaah!!” jeritnya sambil berjalan keluar smoking area membelakangiku.
            Cepat cepat aku kembali ke tempat. Ingin sekali kulihat ia menunjukkan kecantikannya malam ini di hadapan banyak orang. Aku tak sabar ingin segera melihatnya kembali bisa mempesonakanku, sama seperti dulu. Atau bahkan lebih cantik lagi saat pertama kali aku bertemu dia di tempat ijab qabul.
            MC dengan berbasa basi mengulur ulur waktu memberi aba aba jika sebentar lagi sang diva akan keluar dari persembunyiannya. Kuli lensa siap siap berkerumun di sisi catwalk mencari bestview untuk hasil jepretan terbaik menangkap penampakan bidadari langka itu.
Akhirnya bidadari itu turun dari kahyangan. Namanya Nia Syarfiena. Tapi di sini dia lebih biasa dipanggil Nana Yukito. Dia berjalan elok menyusuri karpet merah, dan orang orang mengelu elukan kecantikannya, memotret lekuk tubuhnya, dan langsat kulitnya yang tertutup kimono yang dirajut dengan bahan kain batik mewah khas pola Jogja. Aku tak rela dengan semua ini. Aku tak rela, karena aku merasa dia hanya milikku seorang, dan aku masih berhak atasnya.
Imajinasiku mulai bangkit, aku tersenyum senyum sendirian di tengah hiruk pikuk orang orang yang masih bersorak sorai atasnya. Tak kusangka, jika dulu dia adalah istriku tercinta. Sekarang lihatlah wanita yang berdiri elok di sana, aku adalah pemiliknya. Lihatlah dengan baik baik bidadari itu, kawan. Tak usah kau iri padanya.
Tiba tiba saja imajinasiku buyar ketika Jun naik ke panggung dan menyerahkan setumpuk mawar merah pada bidadariku. Orang orang saling bertepuk tangan. Dan jepretan cahaya semakin menyilaukan ruangan remang itu. Geramku luar biasa. Hatiku seperti dibakar hidup hidup.
Nia menatapku dari kejauhan. Congkaknya luar biasa, seperti sedang memamerkan tumpukan mawarnya padaku. Dan dia masih memamerkan kemesraannya, dengan mencium kedua pipi Jun Hiroshi. Aku semakin meradang. Darahku mendidih dengan cepat. Keringat dingin bercucuran semakin banyak.
Jun turun dari panggung. Wajahnya terlihat sangat lega, seperti baru saja keluar dari toilet dengan perasaan terbang tinggi ke angkasa. Dia menepuk nepuk bahuku dengan sangat kencang.
“Dia sangat luar biasa, Bib! Aku tak salah pilih pacar kan?”
“Iya, Jun. . .” jawabku tanpa semangat sama sekali.


Selasa, 28 September 2010

dokter

Cerpen Putu Wijaya


Seperti kata Dokter John Manansang yang malang-melintang di belantara Boven Digul, masyarakat pedalaman cenderung menunda pergi ke dokter, karena lebih dulu mau konsultasi ke dukun.
Kalau yang sakit sudah sekarat, baru dibawa ke Puskesmas. Biasanya pasien parah langsung diinfus, sehingga ketika maut tiba, masyarakat cenderung melihan jarum infuslah yang sudah membunuh. Sulit menjelaskan kalau sudah ajal, tanpa diinfus atau tidur di hotel bintang lima, manusia tetap mati.
Pada suatu malam, saya dijemput untuk mengobati orang yang menurut dukun dapat kiriman ular berbisa dalam perutnya. Ketika sampai di Puskesmas, saya lihat tubuh orang itu sudah kaku. Dia pasti sudah meninggal di rumahnya. Tetapi keluarganya memaksa saya untuk mengeluarkan ular itu.
“Pak Dokter harus tolong kami. Dia itu kepala keluarga. Hidup-mati kami tergantung pada dia!”
“Tapi sudah terlambat.”
“Terlambat bagaimana, kami sudah bawa ke mari pakai taksi! Uang kami sudah banyak keluar!”
“Tapi sebelum dibawa ke mari nampaknya dia sudah tidak ada!”
“Itu tidak mungkin! Setiap hari lima orang dukun kami bergantian menjaga dia Tidak mungkin roh jahat itu bisa masuk lagi. Pak Dokter mesti keluarkan ular itu dari perutnya!”
“Kalau toh itu benar ada ular dikirim ke perutnya, tidak ada gunanya, sebab orangnya sudah meninggal.”
“Makanya keluarkan ular itu cepat, Pak Dokter jangan ngomong terus!”
“Kami memang miskin, tidak bisa bayar, tapi ini kewajiban Dokter mesti tolong kita punya kepala keluarga!”
“Jangan bikin kami tambah susah Dokter! Mentang-mentang kami orang kecil!”
“Cepat bertindak!”
Saya disumpah untuk menjalankan praktek sesuai dengan ethik kedokteran. Tetapi di dalam hutan, itu tidak berlaku. Saya bisa dibunuh kalau tidak melakukan apa yang mereka minta, karena saya dokter, saya dianggap wajib bisa menyembuhkan orang sakit.
Disaksikan keluarganya, saya bedah mayat itu. Saya buktikan tidak ada ular di perutnya seperti kata dukun. Dia mati karena kurang gizi dan salah menegak ramu-ramuan dukun. Tetapi meskipun sudah melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri, keluarganya tidak percaya. Mereka malah menuduh saya yang sudah terlambat bertindak.
“Kalau pak Dokter langsung bertindak tadi, tidak akan terlambat.”
“Terlambat bagaimana?!”
“Kata dukun, ular itu sudah masuk ke dalam tulang-sumsumnya bersatu dengan darah. Di bawa ke China pun dia akan tetap mati, apalagi hanya ke Puskesmas yang fasilitasnya brengsek ini. Dokter tidak bertanggungjawab!”
“Dokter harus bertindak!”
“Bertindak bagaimana lagi? Paling banter saya bisa menulis surat kematian pasien supaya bisa dibawa pulang!”
“Tidak bisa! Kita tidak bisa bawa dia pulang dalam keadaan sudah jadi mayat. Dia harus terus hidup! Dia kita bawa ke mari untuk maksud supaya dia bisa sembuh. Masak Dokter mau kirim lagi dia pulang supaya jadi mayat. Kasihan keluarganya, Dokter! Dia itu andalan hidup keluarganya, tahu?! Dia tidak boleh mati!”
“Tapi ajal itu di tangan Tuhan, kita hanya bisa berusaha!”
“Makanya kau harus berusaha terus Dokter!”
“Berusaha bagaimana lagi?”
“Panggil! Kejar sekarang!”
“Kejar ke mana?”
“Ayo kejar! Kata dukun dia belum jauh. Paling berapa kilometer. Kalau Dokter cepat bertindak, tidak cuma ngobrol, dia pasri bisa disusul!”
“Disusul?”
“Ah, kau lambat sekali. Beta bilang kejar! Kejar!”
Mereka mendorong saya masuk ke dalam kamar, memaksa saya menarik orang mati itu kembali dari kematiannya. Mereka bahkan bilang siap membantu saya dengan senjata kalau nantinya harus berkelahi.
“Kami bisa panggil kawan-kawan yang lain sekarang untuk bantu. Kami juga punya saudara yang jadi perwira militer. Kita bisa pinjam senjata kalau memang perlu, asal habis jam kantor!”
“Ayo Pak Dokter, jangan terlalu banyak diskusi, nanti terlambat lagi! Kau ini dokter atau mantri?!”
Saya terpaksa kembali ke dekat mayat itu. Sepanjang malam mereka berjaga di sekitar Puskesmas dengan segala macam senjata siap tempur. Ada yang menangis, berdoa dan menyanyi. Dukun pun terus menjalankan upacara, mengeluarkan jampi-jampi agar roh yang mereka anggap sudah diculik suku lain itu pulang.
Saya bingung. Saya duduk di sisi mayat kehabisan akal. Apa yang harus saya lakukan untuk keluar dari persoalan yang tidak menyangkut bidang kedokteran itu. Saya tidak mengerti kehidupan di alam gaib. Akhirnya saya tertidur juga karena terlalu capek.
Pagi-pagi pintu digedor. Orang-orang itu berteriak-teriak tidak sabar, ingin tahu apa hasilnya. Tubuh yang meninggal pun sudah mulai berbau. Wajahnya meringis kesakitan, seakan-akan minta cepat-cepat dikuburkan. Waktu itu saya tidak berpikir lagi seperti seorang dokter sebagaimana yang saya pelajari di kampus. Saya terpaksa menjadi dukun.
Saya rogoh saku, gaji yang saya hendak kirim ke rumah masih utuh. Lalu saya buka pintu.
“Bagaimana?”
“Tenang!”
“Tenang bagaimana? Kami tidak mau Dokter bilang sudah gagal!”
“Saya sudah berusaha..”
“Dan hasilnya?”
“Lumayan.”
“Ah, apa itu itu artinya lumayan, kita orang tidak suka! Itu bahasa orang birokrat yang suka menipu. Bilang saja terus-terang, berhasil atau tidak?”
“Berhasil.”
Mereka tercengang.
“Jadi dia hidup lagi?”
“Bapak-bapak mau dia hidup lagi atau tidak?”
“Sudah pasti kita mau dia orang hidup lagi. Itu maka kita bawa dia ke mari!”
“Saya sudah mencoba.”
“Terus hasilnya?”
“Itu, ” kata saya menunjuk pada mayat.
Semuanya melihat melewati tubuh saya ke arah mayat itu. Saya berikan ruang agar mereka lewat, tapi tidak ada yang mau. Bau mayat itu menyebabkan semuanya tertegun. Dukun sendiri malah mundur selangkah.. Mereka semua nampak bimbang. Kebimbangan itu justru membangkitkan keberanian saya. Saya mulai tahu apa yang harus dilakukan.
“Ayo!”
Orang-orang itu tambah ragu-ragu, tak percaya apa yang saya katakan. Tak percaya apa yang sedang mereka lihat.
“Jadi dia hidup lagi?”
Saya mengangguk. Mereka curiga. Tapi tidak ada yang berani memeriksa..
“Kalau dia hidup mengapa tidak bergerak?”
“Dan mengapa bau?”
“Tadi dia sudah hidup, sekarang sedang tidur.”
“Tidur?”
“Ya.. Tidur untuk selamanya.”
“Apa?!!!!”
“Tapi dia meninggalkan pesan.”
“Pesan apaan!? Kita tidak perlu pesan, kita hanya mau supaya dia hidup lagi!!!”
Saya tidak peduli apa yang mereka katakan. Lalu saya mengulurkan amplop uang gaji itu.
“Kata dia sebelum tidur, berikan ini kepada istri, anak-anak dan keluargaku yang aku tinggalkan. Sampaikan kepada mereka, tenang semua, biarkan aku istirahat sekarang, karena aku sudah lelah sekali, puluhan tahun berjuang menghidupi keluarga, aku tidak sanggup lagi bekerja!”
Orang-orang itu terdiam. Mereka hanya memandang amplop yang saya berikan. Tapi kemudian dukun perlahan-lahan maju. Ia memperhatikan amplop yang saya tunjukkan. Diendus-endusnya dari jauh. Setelah mengucapkan mantera lalu ia mengulurkan japit untuk mengambilnya. Setelah merobek dan mengeluarkan isinya, ia menghitung. Bahkan sampai tiga kali. Kemudian ia melihat kepada orang-orang itu, lantas membagikan uang sambil menahan beberapa di tangannya.
Orang-orang itu menerima uang tanpa menanyakan apa-apa. Seakan-akan itu memang sudah hak mereka. Setelah dukun mengeluarkan mantera, mereka lalu bergerak. Beberapa orang menyanyi, yang lain menghampiri mayat, lalu membawa yang meninggal itu dengan tertib keluar dari Puskesmas untuk dikuburkan.
Saya sama sekali tidak ingin mengatakan, bahwa saya sudah berhasil membeli kesedihan mereka dengan uang. Tidak. Saya sama sekali tidak melihat persoalan itu dari kaca-mata orang kota yang sinis. Apalagi jumlah yang saya berikan juga tidak banyak. Saya hanya mencoba memahami itu sebagai akibat ulah saya yang berhasil berbicara, menyampaikan duka yang amat berat bagi mereka itu, dengan bahasa yang mereka pahami.
“Barangkali mereka senang karena saya tidak menyalahkan dukun. Puas karena saya tidak mencela mereka terlambat membawa sang sakit ke Puskesmas. Tidak melecehkan keberatan atau protes mereka pada nasib, karena yang meninggal memang benar-benar dibutuhkan oleh keluarganya sebagai tiang kehidupan. Mungkin juga mereka senang karena saya tidak mengabaikan perasaan-perasaan mereka, karena saya tidak menganggap kebenaran kota sayalah yang paling benar.”
Tapi setelah itu banyak perubahan yang terjadi. Saya jadi terseret ke dalam situasi yang membuat saya lebih gagap. Saya ternyata sudah mengayunkan langkah ke dunia yang sama sekali asing. Begitu kejeblos, saya langsung kelelap, lantaran saya sama sekali tidak siap.
Sejak itu saya sering diminta untuk mengobati mayat. Profesi saya sebagai dokter yang harus berhadapan dengan orang yang mau bertahan hidup, berubah menjadi pengurus orang mati. Walhasil saya sudah menyalahi sumpah. Berkhianat dan berdosa kepada almamater saya.
Tak jarang yang dibawa pada saya mayat dukun yang sebelum mati sudah berkali-kali wanti-wanti agar nanti dibawa ke Puskesmas. Kalau saya tolak, bisa jadi konflik, karena saya sudah terlanjur dipercaya. Saya sudah memulai dan membangun sesuatu, kalau saya runtuhkan lagi, saya akan berhadapan dengan kekecewaan dan bukan tidak mungkin kekerasan.
Setiap kali mengobati mayat, saya tidak punya kiat lain kecuali saya harus merogoh saku, mengeluarkan duit. Mengulur semacam pelipur, atau apa sajalah namanya, untuk mentolerir duka yang tak bisa mereka elakkan. Akibatnya saya cepat sekali bangkrut.
Barang-barang saya jual satu per satu sampai saya kehilangan segala-galanya. Termasuk cincin pemberian ibu saya. Sementara itu kondisi kesehatan di daerah terpencil tambah rawan. Frekuensi orang mati terus saja bertambah dan semuanya dibawa ke Puskesmas, minta agar saya mengobatinya.
Pernah saya sampai berpikir itu sudah sampai pada tingkat pemerasan. Saya tidak percaya orang-orang pedalaman itu sesungguhnya sebodoh itu. Itu bukan kebodohan lagi tetapi justru kecerdasan. Itu kiat yang dengan lihai menyembunyikan dirinya di balik keluguan. Strategi “orang bodoh” untuk membunuh lawan pintar yang lebih kuasa dengan halus.
Pada suatu malam, muncul di Puskesmas mayat seorang kepala suku. Badannya penuh dengan luka parang. Kepalanya sudah putus dari tubuhnya. Rombongan pengantarnya banyak sekali. Hampir seluruh suku ikut mengarak memenuhi halaman Puskesmas
“Kami berkelahi mempertahankan kehormatan kami dari serangan suku buas., “kata putra kepala suku, “Sebelum perang, Bapa sudah berpesan kalau terjadi apa-apa supaya dibawa ke mari. Tolong hidupkan Bapa kami, Dokter, karena kalau sampai dia mati, berarti kami kalah dan malu besar! Kami mempertaruhkan kehormatan seluruh warga kami!”
Saya termenung di depan mayat itu. Kepalanya bisa saya sambung, tapi ke mana saya cari ganti nyawanya yang hilang? Para pejuang suku itu berjaga-jaga di sekitar Puskesmas dengan senjata-senjata mereka. Banyak di antaranya yang terluka, tetapi mereka tidak peduli. Mereka hanya ingin kepala sukunya kembali hidup supaya pertempuran bisa dilanjutkan.
Saya bingung. Tak ada duit sepeser pun lagi di kantong. Lebih dari itu, duit tak akan mungkin dapat menyenangkan hati suku kaya yang merasa dipermalukan itu.
Saya benar-benar cemas. Saya kira karir saya sebagai dokter sudah tamat. Di samping itu akhir hidup saya juga nampak sudah tiba. Mereka pasti akan kecewa sekali, karena saya memang bukan dukun yang sebenarnya.
Perasaan berdosa yang sejak lama sudah menekan, sekarang menghajar saya. Saya sudah berpura-pura jadi dukun, agar bisa nyambung dengan masyarakat, tetapi ternyata tidak cukup. Saya dituntut menjadi dukun yang sebenarnya. Itu mustahil. Mestinya saya sudah cabut sejak kasus pertama.
Semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata. Subuh, pintu dibuka dan anak kepala suku beserta seluruh prajurinya yang berang itu menatap saya.
“Berhasil Dokter?”
Tubuh saya gemetar.
“Jangan kecewakan kami Dokter!
Saya tidak berani menjawab.
“Kehormatan buat kami paling penting. Kami boleh kelaparan karena tidak dapat binatang perburuan, boleh mati karena wabah penyakit, boleh kocar-kacir karena kebakaran, gempa, banjir, longsor atau letusan gunung berapi, tapi jangan sampai kalah dan menanggung malu.
Bapa orang kebal yang selalu menang dalam pertempuran . Dia tidak boleh mati karena senjata lawan. Kehormatan kami akan hilang selama-lamanya. Lebih baik kami musnah daripada menanggung malu karena kalah!”
“Saya paham itu.”
“Kalau begitu hidupkan lagi Bapa.”
“Saya sudah berusaha.”
“Kami tidak mau hanya usaha. Kami mau ada hasil!”
“Tapi .. “.
“Kalau satu hari tidak cukup, kami bisa tunggu. Bila perlu sebulan atau setahun kami bisa tunggu di sini, asal dia bisa hidup lagi. Bapa saya itu raja. Apa artinya orang-orang ini, kalau Bapa tidak ada?”
“Ya itu saya juga mengerti sekali. Kapal tidak bisa jalan tanpa nakhoda!”
“Makanya hidupkan lagi Bapaku. Otaknya rusak juga tidak apa, asal hidup. Bapa saya itu lambang. Kami semua ada karena dia hidup. Kalau dia mati, kami semua akan mati. Apa Dokter perlu nyawa pengganti?”
“Apa?”
“Sepuluh bahkan seratus orang dari kami sekarang juga mau menyerahkan nyawanya asal bisa menggantikan nyawa Bapa. Hidupkan dia sekarang Dokter!”
“Darah tumpah itu bisa diganti dengan tranfusi, tapi nyawa tidak mungkin.”
“Tapi kau Dokter kan?!”
“Betul.”
“Orang-orang lain mati sudah kau hidupkan, kenapa bapa kami tidak? Apa bedanya? Bapaku itu selalu cinta perdamaian. Dia cinta kami semua. Dia selalu menyanyikan lagu kebangsaan dan memimpin upacara bendera, tidak seperti orang-orang lain yang pura-pura saja cinta supaya dapat uang dari negara, tapi cintanya palsu. Kenapa orang yang berjuang seperti Bapa dibiarkan mati? Ayo Dokter!”
Saya tidak sanggup menjawab.
“Dokter mau biarkan aku punya Bapa mati?”
“Tidak.”
“Kalau begitu hidupkan dia sebab dia sangat mencintai negara! Mengapa orang-orang yang tidak mencintai negara dibiarkan hidup tapi Bapaku yang berjuang untuk negara tidak? Tolong Dokter!”
“Beliau sekarang akan meneruskan perjuangan dari dunia maya, supaya musuh dapat diberantas.”
Anak kepala suku itu kaget.
“Maksud Dokter Bapaku mati?”
Saya tidak mampu menjawab. Anak kepala suku itu sangat kcewa. Mukanya langsung keruh. Semua pengikutnya marah lalu berteriak-teriak histeris. Mereka melolong seperti binatang liar. Saya ketakutan. Para prajurit itu mengangkat senjata seperti hendak mencencang apa saja yang ada di Puskesmas. Semua pegawai meloncat lari menyelamatkan diri.
Karena bingung saya mundur menghampiri meja. Dengan panik, di belakang punggung tangan saya meraba-raba mencari sesuatu untuk bertahan. Kalau saya harus mati, saya tidak mau mati terlalu konyol. Kalau kalah, kalahlah dengan indah dan gagah, pesan orang tua saya waktu kecil.
Harapan saya ada gunting, pisau atau barang tajam lainnya, tidak terkabul. Di laci, tangan saya hanya menemukan copotan besi bendera mobil yang dikibarkan pada peringatan hari kemerdekaan. Saya genggam besi itu, lalu mencoba mengambil posisi bertahan. Saya bukan lagi dokter, saya penakut yang tiba-tiba begitu mencintai hidup walau betapa pun brengseknya. .
“Diam!!!!” teriak anak kepala suku itu dengan suara menggeledek.
Teriakannya membuat semua terdiam. Saya gemetar. Besi bendera itu terlepas, tetapi cepat saya gapai lagi, itulah satu-satunya pegangan saya. Anak kepala suku itu menghampiri saya, hangat nafasnya membuat saya tersiraf.
“Jangan tembak!!!”
Dengan gemetar saya tunjukkan tiang bendera itu.
Anak Kepala Suku tertegun. Ia memperhatikan tiang bendera yang berisi merah-putih kecil yang sudah kumal. Tiba-tiba saya melihat peluang. Lalau entah darimana datangnya keberanian, saya berbisik.
“Pahlawan tidak pernah mati. Semangat berjuang tidak bisa mati!”
Pemuda itu terpesona. Ia seakan-akan terpukul oleh suara saya. Orang-orang lain pun tegang. Mereka memandang kami dengan mata mencorong. Lutut saya tambah lemas. Saya tak sanggup lagi bicara. Apa pun yang akan terjadi, saya menyerah.
Anak kepala suku itu menggapai tiang bendera. Saya kira sebentar lagi dia akan menusukkannya ke dada saya. Tapi ajaib, tidak. Pangeran itu memandang bendera kecil itu dengan takjub, lalu ia menunjukkan kepada teman-temannya.
“Semangat berjuang hidup terus tidak bisa mati!” serunya.
Sedetik hening. Tetapi kemudian semua meledak, bersorak gegap-gempita. Kemudian dengan khusuk mereka mengusung jasad almarhum dibawa ke desa mereka untuk dikebumikan.
Sejak itu bukan orang mati, tetapi orang yang tidak mau mati yang datang ke Puskesmas. Mereka tidak hanya mencari obat, tetapi terutama kasih-sayang. Kalau pun kemudian karena sudah ajal, ada orang sakit yang mati, tapi Puskesmas tidak pernah lagi dianggap sebagai pembunuh. Saya sendiri tidak peduli lagi apakah saya masih seorang dokter atau sudah jadi dukun, saya hanya ingin mencintai saudara-saudara saya itu.